Senin, 01 Juni 2015

STRATEGI PEMBELAJARAN KIMIA DISCOVERY LEARNING



 


MAKALAH STRATEGI PEMBELAJARAN KIMIA
DISCOVERY LEARNING


       Penyusun :
Dini Andriani                    (1313023018)
Ekha Okhtaria                   (1313023022)
Ewid Nur Anisa                  (1313023028)
Lezy Maidela                    (1313023045)
Ni Wayan Puspa                 (1313023057)
Novitasari Fasihah                 (1313023060)
Wahyu Arif Furqon                (1313023088)
Shella Pratiwi                    (1313023072)
Vina Rosalina                    (1313023086)

Mata Kuliah       : Strategi Pembelajaran Kimia
Dosen           : Dr. Sunyono,M.Si.







Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung
Bandarlampung
2015









I.         PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam proses kehidupan. Majunya suatu bangsa dipengaruhi oleh mutu pendidikan dari bangsa itu sendiri karena pendidikan yang tinggi dapat mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan kualitas pendidikan dicerminkan oleh prestasi belajar siswa yang dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang bagus seperti penerapan model, strategi, metode, pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran tersebut.

Kemendikbud menyatakan bahwa salah satu harapan yang ingin dicapai dalam pembelajaran kimia di Sekolah Menengah Atas (SMA) berdasarkan kurikulum 2013 adalah siswa memiliki kemampuan berpikir ilmiah. Kemampuan berpikir ilmiah khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi sangat diperlukan terkait dengan kebutuhan siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapainya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu kemampuan berpikir ilmiah perlu mendapatkan perhatian khusus dalam pembelajaran kimia.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, maka isu mukhtahir dalam pembelajaran kimia saat ini adalah mengembangkan Higher Order Thinking Skill (HOTS) dan menjadikannya sebagai tujuan utama dari pembelajaran kimia. Sementara dalam PP No 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan bahwa kelompok mata pelajaran IPA dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berprilaku ilmiah kreatif, mandiri dan kritis. Keterampilan berpikir kritis merupakan kemampuan untuk berpikir secara rasional dan reflektif berdasarkan apa yang diyakini atau yang dilakukan menurut Ennis dalam (Fisher, 2008: 4). Hal ini sejalan dengan Permendikbud No 81 Tahun 2013 tentang implementasi kurikulum disebutkan bahwa kebutuhan kompetisi masa depan dimana kemampuan peserta didik yang diperlukan yaitu kemampuan berkomunikasi, kreatif, dan berpkir kritis (Kemendikbud 2013: 10).

Hal tersebut memperkuat anggapan bahwa guru dituntut untuk lebih kreatif dalam proses belajar mengajar, sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan pada diri siswa yang pada akhirnya meningkatkan motivasi belajar siswa. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah di atas adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center learning). Dengan aktifnya siswa dalam pembelajaran maka diharapkan pembelajaran akan lebih bermakna karena siswa secara langsung diajak untuk mengkonstruksi pengetahuannya.

 Dalam artikel penelitian Fitri Apriani Pratiwi(2014) menyatakan bahwa menyikapi masalah-masalah yang timbul dalam pendidikan kimia dan harapan yang ingin dicapai dalam pembelajaran kimia maka dibutuhkan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dan sesuai dengan kurikulum 2013. Model pembelajaran yang memiliki karakteristik pendekatan saintifik dan digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa adalah model dicovery learning. Oleh karena itu, untuk mamahami model dicovery learning dalam makalah ini akan membahas bagaimana model pembelajaran dicovery learning dan implementasinya.


B.     Rumusan Makalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1.      Apakah yang pengertian model pembelajaran discovery learning?
2.      Apakah yang tujuan model pembelajaran discovery learning?
3.      Bagaimana karakteristik model pembelajaran discovery learning?
4.      Apa sajakah strategi-strategi dalam pembelajaran discovery learning?
5.      Bagaimanakah peran guru  dalam pembelajaran discovery learning?
6.      Bagaimanakah kelebihan dan kelemahan model pembelajaran discovery learning?
7.      Bagaimanakah langkah-langkah operasional implementasi model pembelajaran discovery learning dalam proses pembelajaran?
8.      Bagaimanakah implementasi model pembelajaran discovery learning dalam proses pembelajaran?


C.    Tujuan Makalah
Adapun tujuan makalah ini yaitu:
1.      Mengetahui pengertian model pembelajaran discovery learning
2.      Mengetahui tujuan model pembelajaran discovery learning
3.      Mengetahui karakteristik model pembelajaran discovery learning
4.      Mengetahui strategi-strategi dalam pembelajaran discovery learning
5.      Mengetahui peran guru  dalam pembelajaran discovery learning
6.      Mengetahui kelebihan dan kelemahan model pembelajaran discovery learning
7.      Mengetahui langkah-langkah operasional implementasi model pembelajaran discovery learning dalam proses pembelajaran
8.      Mengetahui implementasi model pembelajaran discovery learning dalam proses pembelajaran






II.      PEMBAHASAN


A.  Discovery learning

Penemuan (discovery) merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme.model ini menekankan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Wilcox (Slavin, 1977), dalam pembelajaran dengan penemuan siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.

Pengertian discovery learning menurut Jerome Bruner adalah metode belajar yang mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip umum praktis contoh pengalaman. Dan yang menjadi dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif didalam belajar di kelas. Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery learning, yaitu dimana murid mengorganisasikan bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir. Menurut Bell (1978) belajar penemuan adalah belajar yang terjadi sebagia hasil dari siswa memanipulasi, membuat struktur dan mentransformasikan informasi sedemikian sehingga ia menemukan informasi baru. Dalam belajar penemuan, siswa dapat membuat perkiraan (conjucture), merumuskan suatu hipotesis dan menemukan kebenaran dengan menggunakan proses induktif atau proses dedukatif, melakukan observasi dan membuat ekstrapolasi (Hosnan, 2014).

Model pembelajaran discovery learning mengarahkan peserta didik untuk memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Penemuan konsep tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dan dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorganisasi atau mengkonstruksi apa yang mereka ketahui dan pahami dalam suatu bentuk akhir. Hal tersebut terjadi bila peserta didik terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalaui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferring. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating conceps and principles in the mind.

Penggunaan discovery learning, ingin mengubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif, pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented, dan mengubah modus ekspository siswa hanya menerima informasi dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri  (Permendikbud No. 59, 2014).

Robert B. Sund dalam Malik (2001), Bruner memakai metode yang disebutnya discovery learning, di mana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono, 1996:41). Metode Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind.

Sebagai strategi belajar, Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru, sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian, sedangkan problem solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah.

Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap peserta didik, dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu peserta didik pada tahap eksplorasi. Lingkungan ini dinamakan discovery learning environment, yaitu lingkungan dimana peserta didik dapat melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. Lingkungan seperti ini bertujuan agar peserta didik dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif.  

Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan peserta didik dalam berfikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat perkembangannya. Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan, yaitu: enactiv, iconic, dan symbolic. Tahap enaktiv, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya, artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya. Tahap iconic, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). Tahap symbolic, seseorang telah mampu memiliki ideide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya (Hosnan,2014).


B.  Tujuan Pembelajaran Discovery Learning

Tujuan Pembelajaran discovery learning yaitu untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Berfikir kritis ini dengan  cara melatih siswa untuk mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan melalui sintaks nya seperti pada tahap stimulation siswa diajak untuk mengamati dan menanya, tahap problem statement siswa diajak untuk menanya dan mengumpulkan informasi, tahap data collection siswa diajak untuk mencoba dan mengamati, tahap data processing siswa diajak untuk menalar dan menanya dan tahap terakhir verification siswa diajak untuk menalar, dan mengkomunkiasikan. (kemendikbud, 2013)

Bell (1978) mengemukakan beberapa tujuan spesifik dari pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai berikut:
a.       Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika  penemuan digunakan.
b.      Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola dalam situasi konkrit mauun abstrak, juga siswa banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan.
c.       Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya  jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
d.      Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan mneggunakan ide-ide orang lain.
e.       Terdapat beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan-keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna.
Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru (Hosnan, 2014).


C.  Karakteristik Discovery Learning

Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi danmemecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada (Herdian dalam Rofiq, 2014).

Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori konstruktivisme, yaitu sebagai berikut:
1.        Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar.
2.        Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajar pada siswa.
3.        Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin dicapai.
4.        Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses bukan menekankan pada hasil.
5.        Mendorong siswa untuk mampu melakukan penyelidikan.
6.        Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar.
7.        Mendorong berkembangnya rasa ingin tau secara alami pada siswa.
8.        Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa.
9.        Mendasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip kognitif.
10.    Banyak menggunakan terminology kognitif untuk menjelaskan proses pembelajaran seperti prediksi, inferensi, kreasi, dan analisis.
11.    Menekankan pentingnya “bagaimana” siswa belajar.
12.    Mendorong untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi dengan siswa lain dan guru.
13.    Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif.
14.    Menekankan pentingnya konteks dalam belajar.
15.    Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar.
16.    Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasari pada pengalaman nyata

Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme tersebut, penerapannya di dalam kelas sebagai berikut:
1.        Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar.
2.        Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan beberapa waktu kepada siswa untuk merespon.
3.        Mendorong siswa berpikir tingkat tinggi.
4.        Siswa terlibat aktif dalam dialog atau diskusi dengan guru atau siswa lainnya.
5.        Siswa terlibat dalam pengetahuan yang mendorong dan menantang terjadinya diskusi.
6.        Guru menggunakan data mentah, sumber-sumber utama, dan materi-materi interaktif.

Dari teori belajar kongnitif serta ciri dan penerapan teori konstruktivisme tersebut dapat melahirkan strategi discovery learning (Hosnan, 2014).


D.  Langkah-Langkah Operasional Discovery Learning

Menurut Markaban  dalam Hosnan (2014) agar pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut :
1.    Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
2.    Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
3.    Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
4.    Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
5.    Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunya. Disamping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur.
6.    Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.


E.   Strategi-Strategi dalam Pembelajaran Discovery Learning

Dalam pembelajaran dengan penemuan dapat digunakan beberapa strategi sebagai berikut:
1.      Strategi Induktif
Strategi ini terdiri atas dua bagian, yakni bagian data atau contoh khusus dan bagian generalisasi (kesimpulan). Data atau contoh khusus tidak dapat digunakan sebagai bukti, hanya merupakan jalan menuju kesimpulan. Mengambil kesimpulan (penemuan) dengan menggunakan strategi induktif ini selalu mengandung resiko, apakah kesimpulan itu benar atau salah. Karenanya kesimpulan yang ditemukan dengan strategi induktif sebaiknya selalu menggunakan perkataan “barangkali”atau mungkin.

2.      Strategi Deduktif
Dalam matematika metode deduktif, memegang peranan penting dalam hal pembuktian. Karena matematika berisi argumentasi deduktif yang saling berkaitan, maka metode deduktif memegang peranan penting dalam pengajaran matematika. Dari konsep matematika yang bersifat umum yang sudah diketahui siswa sebelumnya, siswa dapat diarahkan untuk menemukan konsep-konsep lain yang belum ia ketahui sebelumnya. (Hosnan, 2014)

Begitu pula dalam kimia metode deduktif, memegang peranan penting dalam hal pembuktian. Sebagai contoh, untuk menetukan rumus larutan penyangga siswa dapat diarahkan untuk menuliskan reaksi kesetimbangan lalu menentukan tetapan kesetimbangan. Dengan demikian siswa dapat mengetahui rumus konsentrasi H+. Jika konsentrasi H+ telah diketahui dapat dicari nilai pHnya.


F.   Peran Guru dalam Pembelajaran Discovery Learning

Dalam mengaplikasikan model discovery learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis, historin, atau ahli kimia.

Dalam strategi discovery learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi,membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan. Hal tersebut memungkinkan murid-murid menemukan arti bagi diri mereka sendiri, dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. Dengan demikian seorang guru dalam aplikasi discovery learning harus dapat menempatkan siswa pada kesempatan-kesempatan dalam belajar yang lebih mandiri. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Melalui kegiatan tersebut siswa akan menguasainya, menerapkan, serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.
Karakteristik yang paling jelas mengenai discovery sebagai model mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) mengajar, bimbingan guru hendaklah lebih berkurang dari pada metode-metode mengajar lainnya. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. Tetapi bimbingan yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri.

Langkah guru sebagai fasilitator pembelajaran dalam belajar penemuan adalah:
a.    Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.
b.    Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah. Guru hendaknya memulai dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Kemudian guru mengemukakan sesuatau yang berlawanan. Dengan demikian terjadi konflik dengan pengalaman siswa. Akibatnya timbulah masalah. Dalam keadaan yang ideal, hal yang berlawanan itu menimbulkan suatu kesangsian yang merangsang para siswa untuk menyelidiki masalah itu, menyusun hipotesis dan mencoba menemukan konsep atau prinsip yang mendasari masalah itu.
c.    Guru harus menyajikan dengan cara enaktif, ikonik dan simbolik. Enaktif adalah melaui tindakan atau dengan kata lain belajar sambil melakukan (learning by doing). Ikonik adalah didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan melalui gambar-gambar yang mewakili suatu konsep. Simbolik adalah menggunakan kata-kata atau bahasa-bahasa.
d.   Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru hendaknya jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan yang akan dipelajari, tetapi hendaknya memberikan saran-saran bila diperlukan. Sebagai seorang tutor, guru hendaknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat.
e.    Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan. Secara garis besar belajar penemuan ialah mempelajarai generalisasi-generalisasi dengan menemukan sendiri konsep-konsep itu. Di lapangan, penilaian hasil belajar penemuan meliputi pemahaman tentang konsep dasar, dan kemampuan untuk menerapkan konsep itu ke dalam situsi baru dan situasi kehidupan nyata sehari-hari pada siswa. Jadi dalam belajar penemuan, guru tidak begitu mengendalikan proses pembelajaran. Guru hendaknya mengarahkan pelajaran pada penemuan dan pemecahan masalah. Penilaian hasil belajar meliputi tentang konsep dasar dan penerapannya pada situasi yang baru (Rofiq, 2014).


G.  Kelebihan Discovery Learning

Berikut ini adalah kelebihan discovery learning yaitu:
1.        Membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
2.        Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah.
3.        Pengetahuan yang diperoleh dari strategi ini sangat pribadi dan ampuh karena mengaitkan pengertian, ingatan dan transfer.
4.        Strategi ini memungkinkan peserta didik berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri
5.        Menyebabkan peserta didik mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
6.        Strategi ini dapat membantu peserta didik memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan lainnya.
7.        Berpusat pada peserta didik dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan, guru pun dapat bertindak sebagai peserta didik dan sebagai peneliti dalam diskusi
8.        Membantu pesrta didik menghilangkan keraguan-keraguan karena mengarah pada kebenaran yang final dan tentu atau pasti
9.        Peserta didik akan mengerti konsep dasar yang lebih baik
10.    Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru
11.    Mendorong peserta didik berpikir atau bekerja atau inisiatif sendiri
12.    Mendorong peserta didik berpikir intuisi dan menemukan hipotesis sendiri
13.    Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik
14.    Situas proses belajar lebih terangsang
15.    Menimbulkan rasa senang peserta didik, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil
16.    Proses belajar meliputi semua aspeknya peserta didik menuju pada pembentukan manusia sesungguhnya
17.    Meningkatkan tingkat penghargaan pada peserta didik;
18.    Kemungkinan peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar;
19.    Kemungkinan peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar
20.    Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
21.    Melatih siswa belajar mandiri
22.    Siswa aktif dalam pembelajaran sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir.
Menurut Marzano (1992) selain kelebihan yang diuraikan diatas, masih ditenukan beberapa kelebihan dari model penemuan itu yaitu sebagai berikut:
1.        Siswa dapat barpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan
2.        Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-temukan)
3.        Mendukung kemampuan problem solving siswa
4.        Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru. Dengan demikian siswa juga terlatih menggunakan bahas Indonesia yang baik dan benar
5.        Siswa belajar sebagaimana belajar
6.        Belajar menghargai diri sendiri
7.        Memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer
8.        Pengetahuan bertahan lama  dan mudah diingat
9.        Hasil belajar discovery learning mempunyai efk lebih baik Karena materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses penemuan
10.    Meningkatkan penalaran siswa dn kemampuan untuk berfikir bebas
11.    Melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain (Hosnan,2014).


H.  Kekurangan Discovery Learning

Adapun kekurangan dari model pembelajaran Discovery Learning yaitu:
1.        Menyita waktu banyak. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Untuk seorang guru ini bukan pekerjaan yang mudah karena itu guru memerlukan waktu yang banyak. Dan sering kali guru merasa belum puas kalau tidak banyak memberi motivasi dan membimbing siswa belajar dengan baik.
2.        Tidak semua siswa mampu melakukan penemuan karena bagi siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. Di pihak lain justru menyebabkan akan timbulnya kegiatan diskusi.
3.        Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
4.        Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa
5.        Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan bagi berfikir yang akan ditemukan oleh siswa telah dipilih lebih dahulu oleh guru, dab proses penemuannya adalah dengan bimbingan guru (Hamalik, 1986: 122).
I.     Langkah-Langkah Operasional Implementasi dalam Proses Pembelajaran Discovery Learning

Untuk mengubah kondisi pembelajaran yang pasif menjadi efektif dan kreatif, pembelajaran yang awalnya teacher oriented to student oriented, serta siswa dapat menemukan informasi sendiri, maka diperlukan langkah–langkah  pengaplikasian model discovery learning yang dilakukan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran. Langkah awal dimulai dari Perencanaan, dilanjutkan persiapan, pelaksanaan dan evaluasi (Permendikbud No.59 Kurikulum 2013).

a.    Langkah Persiapan Discovery Learning
1.    Menentukan tujuan pembelajaran
2.    Melaksanakan identifikasi karakter peserta didik (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya)
3.    Memilih materi pelajaran yang akan dipelajari
4.    Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik secara induktif.
5.    Mengembagkan bahan ajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik.
6.    Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang kongkrit ke abstrak.
7.    Melakukan penilaian proses dari hasil belajar peserta didik (Hosnan,2014).

b.    Langkah Pelaksanaan Discovery Learning
Pada pelaksanaan model discovery learning di kelas beberapa hal yang dilaksanakan dalam kegiatan kelas yaitu sebagai berikut :
1)   Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)\
Siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya , kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi agar timbul rasa ingin tahu dari diri mereka. Disamping itu guru dapat memulai kegitaan pembelajaran dengan memberikan pertanyaan, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi ini berfungsi memberikan kondisi interaksi belajar sehingga proses pembelajaran nantinya akan berjalan aktif yang dapat membantu siswa dalam melakukan eksporasi.
2)   Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)
Pada tahap ini setelah guru memberikan stimulus kepada siswanya, selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis  masalah - masalah yang relevan dengan bahan pelajaran dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah). Mengidentifikasi dan menganalisi merupakan salah satu teknik dalam membangun pemahaman siswa agar terbiasa dalam menemukan suatu masalah yang ada.
3)   Data collection (pengumpulan data).
Dalam tahap ini guru memberikan kesempatan siswa untuk mengumpulkan data atau informasi yang relevan , yang didapat dari bacaan literatur, mengamati objek, mewawancarai narasumber atau melakukan percobaan sendiri dan sebagainya. Pengumpulan data bertujuan untuk menjawab pertanyaan dan membuktikan benar atau tidak hipotesis yang telah dibuat. Hasil dari tahap ini siswa belajar secara aktif untuk menghubungkan suatu masalah dengan pengetahuan yang telah mereka miliki.
4)   Data processing (pengolahan data)
Dalam tahap ini, dilakuakn pengolahan data setelah data terkumpul yang diperoleh siswa melalui pengamatan objek, wawancara, ekperimen dan sebagainya. Semua data tersebut diolah, diacak, diklasifikasikan , bahkan bila data tersebut berupa angka perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Tahap data processing ini merupakan pembentukkan konsep dan generalisasi.  Dari generalisasi siswa akan mendapat pengetahuan baru mengenai jawaban yang perlu pembuktian secara logis.
5)   Verification (pembuktian)
Pada tahap ini siswa memeriksa secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang titetapkan dengan temuannya, kemudian menghubungkannya dengan data yang telah diolah. Verifikasi bertujuan agar proses belajar berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
6)   Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalisasi adalah proses menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Permendikbud No.59 Kurikulum 2013).
Setelah siswa mendapatkan apa yang dicari , maka hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa bagaimana hasil penemuan mereka sebagai evaluasi.  Evaluasi digunakan sebagai alat untuk menentukan suatu tujuan pendidikan dicapai atau tidaknya tujuan pembelajaran, sebagai umpan balik bagi guru dalam melakukan proses pembelajaran , untuk menentukkan kemajuan belajar, untuk menempatkan murid dalam situasi belajar yang tepat  (Anggraini, Wiratuningsih, & Prastyo, 2013).

c.    Contoh Langkah Pembelajaran Discovery Leraning pada Mata Pelajaran Kimia SMA 

Sekolah              : SMA N 1 Pasir Sakti
Mata Pelajaran   : Kimia
Kelas/Semester  : IX IPA / 2
Materi Pokok     : Koloid

v Kompetensi Dasar (KD)
1.1           Menyadari adanya keteraturan dari sifat hidrokarbon, termokimia, laju reaksi, kesetimbangan kimia, larutan dan koloid sebagai wujud kebesaran Tuhan YME dan pengetahuan tentang adanya keteraturan tersebut sebagai hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat tentatif.
2.1           Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, disiplin, jujur, objektif, terbuka, mampu membedakan fakta dan opini, ulet, teliti, bertanggung jawab, kritis, kreatif, inovatif, demokratis, komunikatif) dalam merancang dan melakukan percobaan serta berdiskusi yang diwujudkan dalam sikap sehari-hari.
2.2           Menunjukkan perilaku responsif dan pro-aktif serta bijaksana sebagai wujud kemampuan memecahkan masalah dan membuat keputusan.
3.15 Menganalisis peran koloid dalam kehidupan berdasarkan sifat-sifatnya indikator:
1.        Mengidentifikasi jenis-jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan fase pendispersi
4.15       Mengajukan ide/gagsan untuk memodifikasi pembuatan koloid berdasarkan pengalaman membuat beberapa jenis koloid
Indikator:
1.         Menentukan fase terdispersi dan fase pendispersi dari beberapa contoh koloid dalam kehidupan sehari-hari
2.         Menganalisis jenis-jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan fase pendispersi
3.         Menyimpulkan jenis-jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan fase pendispersinya

v Pertemuan ke 1   
a.    Kegiatan pendahuluan
Guru menyampaikan salam dan menanyakan kehadiran peserta didik, menyampaikan KI, KD, dan tujuan pembelajaran

b.    Kegiatan Inti
Penciptaan stimulasi
1.    Guru menunjukan beberapa contoh koloid yang ada pada kehidupan sehari-hari
2.    Peserta didik memperhatikan (mengamati) beberapa contoh koloid yang ada di dalam kehidupan sehari-hari.
3.    Guru menyebutkan komponen penyusun yang ada pada koloid yaitu fase terdispersi dan medium pendispersi
4.    Peserta didik bertanya mengenai fase terdidpersi dan medium pendispersi dari beberapa contoh.
5.    Peserta didik mengidentifikasi (mengumpulkan informasi) mengenai perbedaan fase terdispersi dan medium pendispersi dari contoh koloid yang dijelaskan guru.

·      Pembahasaan tugas dan identifikasi masalah
1.        Guru meminta peserta didik untuk mengidentifikasi fase terdispersi dan medium pendispersi pada beberapa contoh  koloid dalam kehidupan sehari-hari
2.        Peserta didik mengidentifikasi ciri-ciri dari fase terdispersi dan medium pendispersi suatu koloid

·      Observasi
Peserta didik mencoba mengidentifikasi komponen penyusun beberapa contoh koloid berdasarkan ciri-ciri dari fase terdispersi dan medium pendispersi.
·           Pengumpulan data
1.         Peserta didik menuliskan fase terdispersi dan medium pendispersi dari beberapa contoh koloid.
2.         Peserta didik mencari informasi mengenai jenis-jenis fase terdispersi dan medium pendispersi dari referensi yang ada untuk mengidentifikasi jenis koloid
·      Verifikasi data
Peserta didik melakukan pencermatan data yang diperoleh dari fese terdispersi dan medium pendispersi beberapa contoh koloid dalam kehidupan sehari-hari yang diberikan guru dan mencocokannya dengan jenis-jenis koloid berdasarkan fase terdisppersi dan medium pendispersinya.
·           Generalisasi
1.         Peseta didik menyimpilkan jenis-jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersinya.
2.         Peserta didik mepresentasikan (mengomunikasikan) hasil pengamatan beberapa contoh koloid dalam kehidupan sehari-hari dan dan jenis koloidnya berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersi koloid tersebut

c.              Penutup
1.         Guru melakukan tanya jawab dengan peserta untuk membuat rangkuman dan atau hasil kesimpulan mengenai jenis-jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersinya.
2.         Guru memberikan tugas terstruktur membuat tabel jenis-jenis koloid secara berkelompok.
3.         Peserta didik membersihkan kelas dan membuang sampah pada tempatnya.






III.   PENUTUP



A.      Kesimpulan
Pembelajaran discovery learning (penemuan) merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam pendekatan saintifik. Pembelajaran discovery learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Pembelajaran discovery learning memliki beberapa kelebihan, diantaranya berpusat pada siswa, membangkitkan keingintahuan siswa, pengetahuan yang diperoleh sangat pribadi dan ampuh menguatkan ingatan, pengertian dan transfer. Pembelajaran discovery learning juga mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya menyita banyak waktu, tidak berlaku untuk semua topik dan tidak semua siswa dapat melakukan penemuan.


B.       Saran
Sebagai mahasiswa yang tidak terlepas dari segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan dan bidang keilmuan khususnya di provinsi Lampung, seharusnya dapat lebih giat dalam mempelajari model pembelajaran dengan baik. Hal ini bertujuan supaya dapat memilih dan memilah materi mana yang tepat dan cocok yang dapat diterapkan dalam proses belajar agar tidak menyita waktunya juga tidak hanya melibatkan beberapa siswa saja, karena model pembelajaran discovery diperlukan keaktifan seluruh siswa.





DAFTAR PUSTAKA



Hamalik O. 1986. Media Pendidikan. Bandung: PT Citra Aditya Bakti

    Hosnan,M.2014.Pendekatan Scientific dalam pembelajaran abad 21. Bogor : Ghalia Indonesia

Kemendikbud.2013. Model Pengembangan Penilaian Hasil Belajar. Jakarta : Direktorat Pembinaan SMA

Permendikbud No 59 tahun 2014. Standar Proses Untuk Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pratiwi, F. A., & Rasmawan, R. (2014). Pengaruh Penggunaan Model Discovery
Learning dengan Pendekatan Saintifik terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 3(7).

Rofiq, A. (2014). Peran Strategi Pembelajaran Penemuan (Discovery) dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Dalam Materi Ciri Khusus Makhluk Hidup Pada Siswa Kelas VI.C MI Nurul Islam Pongangan Manyar Gresik Tahun Pelajaran 2014/2015 (Doctoral dissertation). Surabaya : UIN Sunan Ampel

0 komentar:

Posting Komentar