MAKALAH
STRATEGI PEMBELAJARAN KIMIA
DISCOVERY
LEARNING
Penyusun :
Dini Andriani (1313023018)
Ekha Okhtaria (1313023022)
Ewid Nur Anisa (1313023028)
Lezy Maidela (1313023045)
Ni Wayan Puspa (1313023057)
Novitasari Fasihah (1313023060)
Wahyu Arif Furqon (1313023088)
Shella Pratiwi (1313023072)
Vina Rosalina (1313023086)
Mata
Kuliah : Strategi Pembelajaran Kimia
Dosen : Dr. Sunyono,M.Si.
Jurusan
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung
Bandarlampung
2015
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu
kebutuhan yang harus dipenuhi dalam proses kehidupan.
Majunya suatu bangsa dipengaruhi oleh mutu pendidikan dari bangsa itu sendiri
karena pendidikan yang tinggi dapat mencetak sumber daya manusia yang
berkualitas. Peningkatan kualitas pendidikan dicerminkan oleh prestasi belajar
siswa yang dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang bagus seperti penerapan model, strategi,
metode, pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran
tersebut.
Kemendikbud menyatakan bahwa salah satu harapan yang
ingin dicapai dalam pembelajaran kimia di Sekolah Menengah
Atas (SMA) berdasarkan kurikulum 2013 adalah siswa
memiliki kemampuan berpikir ilmiah.
Kemampuan berpikir ilmiah khususnya kemampuan berpikir tingkat
tinggi sangat diperlukan terkait dengan kebutuhan siswa
untuk memecahkan masalah yang dihadapainya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu kemampuan berpikir ilmiah perlu
mendapatkan perhatian khusus dalam pembelajaran
kimia.
Dalam rangka mencapai
tujuan tersebut, maka isu mukhtahir dalam pembelajaran kimia saat ini adalah
mengembangkan Higher Order Thinking Skill (HOTS) dan menjadikannya sebagai
tujuan utama dari pembelajaran kimia. Sementara dalam PP No 19 Tahun 2005
tentang standar nasional pendidikan bahwa kelompok mata pelajaran IPA
dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan
teknologi serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berprilaku ilmiah kreatif,
mandiri dan kritis. Keterampilan berpikir kritis merupakan kemampuan untuk
berpikir secara rasional dan reflektif berdasarkan apa yang diyakini atau yang
dilakukan menurut Ennis dalam (Fisher, 2008: 4). Hal ini sejalan dengan
Permendikbud No 81 Tahun 2013 tentang implementasi kurikulum disebutkan bahwa
kebutuhan kompetisi masa depan dimana kemampuan peserta didik yang diperlukan
yaitu kemampuan berkomunikasi, kreatif, dan berpkir kritis (Kemendikbud 2013:
10).
Hal tersebut memperkuat
anggapan bahwa guru dituntut untuk lebih kreatif dalam proses belajar mengajar,
sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan pada diri siswa yang pada
akhirnya meningkatkan motivasi belajar siswa. Salah satu cara yang dapat
digunakan untuk mengatasi masalah di atas adalah dengan menggunakan model
pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center learning). Dengan
aktifnya siswa dalam pembelajaran maka diharapkan pembelajaran akan lebih
bermakna karena siswa secara langsung diajak untuk mengkonstruksi
pengetahuannya.
Dalam artikel penelitian Fitri Apriani
Pratiwi(2014) menyatakan bahwa menyikapi masalah-masalah yang timbul dalam
pendidikan kimia dan harapan yang ingin dicapai dalam pembelajaran kimia maka
dibutuhkan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan
berpikir kritis siswa dan sesuai dengan kurikulum 2013. Model pembelajaran yang
memiliki karakteristik pendekatan saintifik dan digunakan untuk meningkatkan
keterampilan berpikir kritis siswa adalah model dicovery learning. Oleh karena itu, untuk mamahami model dicovery learning dalam makalah ini akan
membahas bagaimana model pembelajaran dicovery
learning dan implementasinya.
B. Rumusan Makalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini
adalah:
1.
Apakah yang pengertian model pembelajaran discovery
learning?
2.
Apakah yang tujuan model pembelajaran discovery
learning?
3.
Bagaimana karakteristik
model pembelajaran discovery learning?
4.
Apa sajakah strategi-strategi dalam
pembelajaran discovery learning?
5.
Bagaimanakah peran guru dalam pembelajaran discovery learning?
6.
Bagaimanakah
kelebihan dan kelemahan model pembelajaran discovery learning?
7.
Bagaimanakah langkah-langkah operasional
implementasi model pembelajaran discovery learning dalam proses
pembelajaran?
8. Bagaimanakah
implementasi model pembelajaran discovery learning dalam proses
pembelajaran?
C.
Tujuan
Makalah
Adapun tujuan makalah
ini yaitu:
1.
Mengetahui pengertian model pembelajaran discovery
learning
2.
Mengetahui tujuan model pembelajaran discovery
learning
3.
Mengetahui karakteristik model pembelajaran discovery learning
4.
Mengetahui strategi-strategi dalam
pembelajaran discovery learning
5.
Mengetahui peran guru dalam pembelajaran discovery learning
6.
Mengetahui kelebihan dan kelemahan model pembelajaran discovery learning
7.
Mengetahui langkah-langkah operasional
implementasi model pembelajaran discovery learning dalam proses
pembelajaran
8. Mengetahui
implementasi model pembelajaran discovery learning dalam proses
pembelajaran
II. PEMBAHASAN
A. Discovery
learning
Penemuan (discovery) merupakan suatu model pembelajaran yang
dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme.model ini menekankan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide
penting terhadap suatu disiplin ilmu melalui keterlibatan siswa secara aktif
dalam proses pembelajaran. Menurut Wilcox (Slavin,
1977), dalam pembelajaran dengan penemuan siswa didorong untuk belajar sebagian
besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan
melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk
diri mereka sendiri.
Pengertian discovery learning menurut Jerome Bruner adalah
metode belajar yang mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menarik
kesimpulan dari prinsip-prinsip umum praktis contoh pengalaman. Dan yang
menjadi dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari piaget yang menyatakan bahwa
anak harus berperan secara aktif didalam belajar di kelas. Untuk itu Bruner
memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery learning, yaitu dimana murid
mengorganisasikan bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir. Menurut Bell
(1978) belajar penemuan adalah belajar yang terjadi sebagia hasil dari siswa
memanipulasi, membuat struktur dan mentransformasikan informasi sedemikian
sehingga ia menemukan informasi baru. Dalam
belajar penemuan, siswa dapat membuat perkiraan (conjucture), merumuskan suatu
hipotesis dan menemukan kebenaran dengan menggunakan proses induktif atau proses
dedukatif, melakukan observasi dan membuat ekstrapolasi
(Hosnan, 2014).
Model pembelajaran discovery learning mengarahkan peserta didik untuk memahami konsep, arti, dan
hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu
kesimpulan. Penemuan konsep tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi peserta
didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dan dilanjutkan
dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorganisasi atau mengkonstruksi
apa yang mereka ketahui dan pahami dalam suatu bentuk akhir. Hal tersebut
terjadi bila peserta didik terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya
untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalaui
observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferring. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating conceps
and principles in the mind.
Penggunaan discovery learning, ingin mengubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan
kreatif, pembelajaran yang teacher
oriented ke student oriented, dan
mengubah modus ekspository siswa hanya menerima informasi dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi
sendiri (Permendikbud No. 59, 2014).
Robert B. Sund dalam Malik (2001), Bruner memakai metode yang disebutnya
discovery learning, di mana murid
mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono,
1996:41). Metode Discovery Learning
adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk
akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu
terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa
konsep dan prinsip. Discovery
dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps
and principles in the mind.
Sebagai strategi belajar, Discovery
Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving.
Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan pada
ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya
dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan
kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru, sedangkan pada inkuiri
masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh
pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah
itu melalui proses penelitian, sedangkan problem solving lebih memberi tekanan
pada kemampuan menyelesaikan masalah.
Di dalam proses belajar,
Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap peserta didik, dan mengenal
dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses belajar perlu
lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu peserta didik pada tahap eksplorasi.
Lingkungan ini dinamakan discovery
learning environment, yaitu lingkungan dimana peserta didik dapat melakukan
eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang
mirip dengan yang sudah diketahui. Lingkungan seperti ini bertujuan agar
peserta didik dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih
kreatif.
Untuk memfasilitasi
proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan
pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Manipulasi
bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan peserta didik dalam
berfikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui
tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan, yaitu: enactiv,
iconic, dan symbolic. Tahap enaktiv, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas
dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya, artinya, dalam memahami dunia
sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan,
pegangan, dan sebagainya. Tahap iconic, seseorang memahami objek-objek atau
dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam
memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan
perbandingan (komparasi). Tahap symbolic, seseorang telah mampu memiliki ideide
atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam
berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui
simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya (Hosnan,2014).
B. Tujuan
Pembelajaran Discovery Learning
Tujuan Pembelajaran discovery learning yaitu untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis
siswa. Berfikir kritis ini dengan cara
melatih siswa untuk mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan
melalui sintaks nya seperti pada tahap stimulation
siswa diajak untuk mengamati dan menanya, tahap problem statement siswa diajak untuk menanya dan mengumpulkan
informasi, tahap data collection
siswa diajak untuk mencoba dan mengamati, tahap data processing siswa diajak untuk menalar dan menanya dan tahap
terakhir verification siswa diajak
untuk menalar, dan mengkomunkiasikan. (kemendikbud, 2013)
Bell (1978) mengemukakan beberapa
tujuan spesifik dari pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai berikut:
a.
Dalam penemuan siswa memiliki
kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan
bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika
penemuan digunakan.
b.
Melalui pembelajaran dengan penemuan,
siswa belajar menemukan pola dalam situasi konkrit mauun abstrak, juga siswa
banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan.
c.
Siswa juga belajar merumuskan
strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab untuk
memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
d.
Pembelajaran dengan penemuan
membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi
informasi, serta mendengar dan mneggunakan ide-ide orang lain.
e.
Terdapat beberapa fakta yang
menunjukan bahwa keterampilan-keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip
yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna.
Keterampilan yang dipelajari
dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer
untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru (Hosnan, 2014).
C. Karakteristik Discovery Learning
Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi danmemecahkan
masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2)
berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan
pengetahuan yang sudah ada (Herdian
dalam Rofiq, 2014).
Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan
oleh teori konstruktivisme, yaitu sebagai berikut:
1.
Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar.
2.
Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajar pada
siswa.
3.
Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang
ingin dicapai.
4.
Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses bukan
menekankan pada hasil.
5.
Mendorong siswa untuk mampu melakukan penyelidikan.
6.
Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar.
7.
Mendorong berkembangnya rasa ingin tau secara alami pada
siswa.
8.
Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman
siswa.
9.
Mendasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip kognitif.
10. Banyak menggunakan
terminology kognitif untuk menjelaskan proses pembelajaran seperti prediksi,
inferensi, kreasi, dan analisis.
11. Menekankan pentingnya
“bagaimana” siswa belajar.
12. Mendorong untuk
berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi dengan siswa lain dan guru.
13. Sangat mendukung
terjadinya belajar kooperatif.
14. Menekankan pentingnya
konteks dalam belajar.
15. Memperhatikan keyakinan
dan sikap siswa dalam belajar.
16. Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasari pada
pengalaman nyata
Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran
konstruktivisme tersebut, penerapannya di dalam kelas sebagai berikut:
1.
Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar.
2.
Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan
beberapa waktu kepada siswa untuk merespon.
3.
Mendorong siswa berpikir tingkat tinggi.
4.
Siswa terlibat aktif dalam dialog atau diskusi dengan guru
atau siswa lainnya.
5.
Siswa terlibat dalam pengetahuan yang mendorong dan menantang
terjadinya diskusi.
6.
Guru menggunakan data mentah, sumber-sumber utama, dan
materi-materi interaktif.
Dari teori belajar kongnitif serta
ciri dan penerapan teori konstruktivisme tersebut dapat melahirkan strategi discovery learning (Hosnan, 2014).
D. Langkah-Langkah
Operasional Discovery Learning
Menurut Markaban dalam Hosnan (2014) agar pelaksanaan model
pembelajaran penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa langkah
yang mesti ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya,
perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir
sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
2. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir,
dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan
sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk
melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
3. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
4. Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut diatas
diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran
prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
5. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut,
maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk
menyusunya. Disamping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100%
kebenaran konjektur.
6. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal
latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
E.
Strategi-Strategi dalam Pembelajaran Discovery Learning
Dalam pembelajaran dengan penemuan dapat digunakan
beberapa strategi sebagai berikut:
1.
Strategi Induktif
Strategi ini terdiri atas dua bagian, yakni bagian data
atau contoh khusus dan bagian generalisasi (kesimpulan). Data atau contoh
khusus tidak dapat digunakan sebagai bukti, hanya merupakan jalan menuju kesimpulan.
Mengambil kesimpulan (penemuan) dengan menggunakan strategi induktif ini selalu
mengandung resiko, apakah kesimpulan itu benar atau salah. Karenanya kesimpulan
yang ditemukan dengan strategi induktif sebaiknya selalu menggunakan perkataan
“barangkali”atau mungkin.
2.
Strategi Deduktif
Dalam matematika metode deduktif, memegang peranan
penting dalam hal pembuktian. Karena matematika berisi argumentasi deduktif
yang saling berkaitan, maka metode deduktif memegang peranan penting dalam
pengajaran matematika. Dari konsep matematika yang bersifat umum yang sudah
diketahui siswa sebelumnya, siswa dapat diarahkan untuk menemukan konsep-konsep
lain yang belum ia ketahui sebelumnya. (Hosnan, 2014)
Begitu pula dalam kimia metode deduktif, memegang peranan
penting dalam hal pembuktian. Sebagai contoh, untuk menetukan rumus larutan
penyangga siswa dapat diarahkan untuk menuliskan reaksi kesetimbangan lalu
menentukan tetapan kesetimbangan. Dengan demikian siswa dapat mengetahui rumus
konsentrasi H+. Jika konsentrasi H+ telah diketahui dapat
dicari nilai pHnya.
F. Peran Guru dalam
Pembelajaran Discovery Learning
Dalam mengaplikasikan model discovery learning guru berperan sebagai pembimbing dengan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana
pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa
sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar
mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. Hal yang menarik dalam
pendapat Bruner yang menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan
muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis, historin, atau
ahli kimia.
Dalam strategi
discovery learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa
dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi,membandingkan,
mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta
membuat kesimpulan-kesimpulan. Hal tersebut memungkinkan murid-murid menemukan
arti bagi diri mereka sendiri, dan memungkinkan mereka untuk mempelajari
konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. Dengan demikian seorang
guru dalam aplikasi discovery learning
harus dapat menempatkan siswa pada kesempatan-kesempatan dalam belajar yang
lebih mandiri. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik
dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu
konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai
dalam kehidupannya. Melalui kegiatan tersebut siswa akan menguasainya,
menerapkan, serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.
Karakteristik yang paling jelas mengenai discovery sebagai model mengajar ialah
bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) mengajar, bimbingan guru
hendaklah lebih berkurang dari pada metode-metode mengajar lainnya. Hal ini tak
berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan setelah
problema disajikan kepada pelajar. Tetapi bimbingan yang diberikan tidak hanya
dikurangi direktifnya melainkan pelajar diberi responsibilitas yang lebih besar
untuk belajar sendiri.
Langkah guru sebagai fasilitator pembelajaran dalam
belajar penemuan adalah:
a.
Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran
itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.
b.
Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar
bagi para siswa untuk memecahkan masalah. Guru hendaknya memulai dengan sesuatu
yang sudah dikenal siswa. Kemudian guru mengemukakan sesuatau yang berlawanan.
Dengan demikian terjadi konflik dengan pengalaman siswa. Akibatnya timbulah
masalah. Dalam keadaan yang ideal, hal yang berlawanan itu menimbulkan suatu
kesangsian yang merangsang para siswa untuk menyelidiki masalah itu, menyusun
hipotesis dan mencoba menemukan konsep atau prinsip yang mendasari masalah itu.
c.
Guru harus menyajikan dengan cara enaktif, ikonik dan
simbolik. Enaktif adalah melaui tindakan atau dengan kata lain belajar sambil
melakukan (learning by doing). Ikonik
adalah didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan melalui
gambar-gambar yang mewakili suatu konsep. Simbolik adalah menggunakan kata-kata
atau bahasa-bahasa.
d.
Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara
teoritis, guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru
hendaknya jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan yang akan
dipelajari, tetapi hendaknya memberikan saran-saran bila diperlukan. Sebagai
seorang tutor, guru hendaknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat.
e.
Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam
belajar penemuan. Secara garis besar belajar penemuan ialah mempelajarai
generalisasi-generalisasi dengan menemukan sendiri konsep-konsep itu. Di
lapangan, penilaian hasil belajar penemuan meliputi pemahaman tentang konsep
dasar, dan kemampuan untuk menerapkan konsep itu ke dalam situsi baru dan
situasi kehidupan nyata sehari-hari pada siswa. Jadi dalam belajar penemuan,
guru tidak begitu mengendalikan proses pembelajaran. Guru hendaknya mengarahkan
pelajaran pada penemuan dan pemecahan masalah. Penilaian hasil belajar meliputi
tentang konsep dasar dan penerapannya pada situasi yang baru (Rofiq, 2014).
G. Kelebihan Discovery Learning
Berikut ini adalah kelebihan discovery
learning yaitu:
1.
Membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan
keterampilan-keterampilan dan proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci
dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
2.
Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah.
3.
Pengetahuan yang diperoleh dari strategi ini sangat pribadi
dan ampuh karena mengaitkan pengertian, ingatan dan transfer.
4.
Strategi ini memungkinkan peserta didik berkembang dengan
cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri
5.
Menyebabkan peserta didik mengarahkan kegiatan belajarnya
sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
6.
Strategi ini dapat membantu peserta didik memperkuat konsep
dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan lainnya.
7.
Berpusat pada peserta didik dan guru berperan sama-sama aktif
mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan, guru pun dapat bertindak sebagai peserta
didik dan sebagai peneliti dalam diskusi
8.
Membantu pesrta didik menghilangkan keraguan-keraguan karena
mengarah pada kebenaran yang final dan tentu atau pasti
9.
Peserta didik akan mengerti konsep dasar yang lebih baik
10. Membantu dan mengembangkan
ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru
11. Mendorong peserta didik
berpikir atau bekerja atau inisiatif sendiri
12. Mendorong peserta didik
berpikir intuisi dan menemukan hipotesis sendiri
13. Memberikan keputusan yang
bersifat intrinsik
14. Situas proses belajar
lebih terangsang
15. Menimbulkan rasa senang
peserta didik, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil
16.
Proses belajar meliputi semua aspeknya peserta didik menuju
pada pembentukan manusia sesungguhnya
17.
Meningkatkan tingkat penghargaan pada
peserta didik;
18. Kemungkinan
peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar;
19. Kemungkinan
peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar
20. Dapat
mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
21. Melatih
siswa belajar mandiri
22. Siswa
aktif dalam pembelajaran sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk
menemukan hasil akhir.
Menurut Marzano (1992)
selain kelebihan yang diuraikan diatas, masih ditenukan beberapa kelebihan dari
model penemuan itu yaitu sebagai berikut:
1.
Siswa dapat barpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang
disajikan
2.
Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-temukan)
3.
Mendukung kemampuan problem
solving siswa
4.
Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan
guru. Dengan demikian siswa juga terlatih menggunakan bahas Indonesia yang baik
dan benar
5.
Siswa belajar sebagaimana belajar
6.
Belajar menghargai diri sendiri
7.
Memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer
8.
Pengetahuan bertahan lama
dan mudah diingat
9.
Hasil belajar discovery
learning mempunyai efk lebih baik Karena materi yang dipelajari dapat mencapai
tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan
dalam proses penemuan
10. Meningkatkan penalaran
siswa dn kemampuan untuk berfikir bebas
11. Melatih
keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah
tanpa pertolongan orang lain (Hosnan,2014).
H. Kekurangan Discovery Learning
Adapun kekurangan dari model pembelajaran Discovery Learning yaitu:
1.
Menyita waktu banyak. Guru
dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi
menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Untuk
seorang guru ini bukan pekerjaan yang mudah karena itu guru memerlukan waktu
yang banyak. Dan sering kali guru merasa belum puas kalau tidak banyak memberi
motivasi dan membimbing siswa belajar dengan baik.
2.
Tidak semua siswa mampu melakukan
penemuan karena bagi siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak
atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis
atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. Di pihak lain
justru menyebabkan akan timbulnya kegiatan diskusi.
3.
Pengajaran discovery lebih
cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep,
keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
4.
Pada beberapa disiplin ilmu,
misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para
siswa
5.
Tidak menyediakan
kesempatan-kesempatan bagi berfikir yang akan ditemukan oleh siswa telah
dipilih lebih dahulu oleh guru, dab proses penemuannya adalah dengan bimbingan
guru (Hamalik, 1986: 122).
I. Langkah-Langkah Operasional Implementasi
dalam Proses Pembelajaran Discovery Learning
Untuk mengubah kondisi pembelajaran yang pasif menjadi
efektif dan kreatif, pembelajaran yang awalnya teacher oriented to student oriented, serta siswa dapat menemukan
informasi sendiri, maka diperlukan langkah–langkah pengaplikasian model discovery learning yang dilakukan oleh seorang guru dalam proses
pembelajaran. Langkah awal dimulai dari Perencanaan, dilanjutkan persiapan,
pelaksanaan dan evaluasi (Permendikbud No.59 Kurikulum 2013).
a.
Langkah Persiapan Discovery
Learning
1. Menentukan tujuan
pembelajaran
2. Melaksanakan identifikasi
karakter peserta didik (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya)
3. Memilih materi pelajaran
yang akan dipelajari
4. Menentukan topik-topik
yang harus dipelajari peserta didik secara induktif.
5. Mengembagkan bahan ajar
yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari
peserta didik.
6. Mengatur topik-topik
pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang kongkrit ke abstrak.
7. Melakukan penilaian proses
dari hasil belajar peserta didik (Hosnan,2014).
b.
Langkah Pelaksanaan Discovery
Learning
Pada pelaksanaan model discovery
learning di kelas beberapa hal yang dilaksanakan dalam kegiatan kelas yaitu
sebagai berikut :
1) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)\
Siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya
, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi agar timbul rasa ingin
tahu dari diri mereka. Disamping itu guru dapat memulai kegitaan pembelajaran
dengan memberikan pertanyaan, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada
persiapan pemecahan masalah. Stimulasi ini berfungsi memberikan kondisi
interaksi belajar sehingga proses pembelajaran nantinya akan berjalan aktif
yang dapat membantu siswa dalam melakukan eksporasi.
2) Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)
Pada tahap ini setelah guru memberikan stimulus kepada
siswanya, selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengidentifikasi dan menganalisis
masalah - masalah yang relevan dengan bahan pelajaran dan dirumuskan
dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).
Mengidentifikasi dan menganalisi merupakan salah satu teknik dalam membangun
pemahaman siswa agar terbiasa dalam menemukan suatu masalah yang ada.
3) Data collection (pengumpulan data).
Dalam tahap ini guru memberikan kesempatan siswa untuk
mengumpulkan data atau informasi yang relevan , yang didapat dari bacaan
literatur, mengamati objek, mewawancarai narasumber atau melakukan percobaan
sendiri dan sebagainya. Pengumpulan data bertujuan untuk menjawab pertanyaan
dan membuktikan benar atau tidak hipotesis yang telah dibuat. Hasil dari tahap
ini siswa belajar secara aktif untuk menghubungkan suatu masalah dengan
pengetahuan yang telah mereka miliki.
4) Data processing (pengolahan data)
Dalam tahap ini, dilakuakn pengolahan data setelah
data terkumpul yang diperoleh siswa melalui pengamatan objek, wawancara,
ekperimen dan sebagainya. Semua data tersebut diolah, diacak, diklasifikasikan
, bahkan bila data tersebut berupa angka perlu dihitung dengan cara tertentu
serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Tahap data processing ini
merupakan pembentukkan konsep dan generalisasi.
Dari generalisasi siswa akan mendapat pengetahuan baru mengenai jawaban
yang perlu pembuktian secara logis.
5) Verification (pembuktian)
Pada tahap ini siswa memeriksa secara cermat untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang titetapkan dengan temuannya,
kemudian menghubungkannya dengan data yang telah diolah. Verifikasi bertujuan
agar proses belajar berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau
pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
6) Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalisasi adalah proses menarik kesimpulan
yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah
yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Permendikbud No.59 Kurikulum
2013).
Setelah siswa mendapatkan apa yang dicari , maka
hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa
bagaimana hasil penemuan mereka sebagai evaluasi. Evaluasi digunakan sebagai alat untuk menentukan suatu tujuan pendidikan dicapai
atau tidaknya tujuan pembelajaran, sebagai umpan balik bagi guru dalam
melakukan proses pembelajaran , untuk menentukkan kemajuan belajar, untuk
menempatkan murid dalam situasi belajar yang tepat (Anggraini,
Wiratuningsih, & Prastyo, 2013).
c. Contoh Langkah
Pembelajaran Discovery Leraning pada Mata Pelajaran Kimia SMA
Sekolah : SMA N 1 Pasir Sakti
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : IX IPA / 2
Materi Pokok : Koloid
v Kompetensi Dasar (KD)
1.1
Menyadari adanya
keteraturan dari sifat hidrokarbon, termokimia, laju reaksi, kesetimbangan
kimia, larutan dan koloid sebagai wujud kebesaran Tuhan YME dan pengetahuan
tentang adanya keteraturan tersebut sebagai hasil pemikiran kreatif manusia
yang kebenarannya bersifat tentatif.
2.1
Menunjukkan perilaku
ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, disiplin, jujur, objektif, terbuka, mampu
membedakan fakta dan opini, ulet, teliti, bertanggung jawab, kritis, kreatif,
inovatif, demokratis, komunikatif) dalam merancang dan melakukan percobaan
serta berdiskusi yang diwujudkan dalam sikap sehari-hari.
2.2
Menunjukkan perilaku
responsif dan pro-aktif serta bijaksana sebagai wujud kemampuan memecahkan
masalah dan membuat keputusan.
3.15 Menganalisis peran koloid dalam kehidupan berdasarkan
sifat-sifatnya indikator:
1.
Mengidentifikasi jenis-jenis koloid berdasarkan fase
terdispersi dan fase pendispersi
4.15
Mengajukan ide/gagsan
untuk memodifikasi pembuatan koloid berdasarkan pengalaman membuat beberapa
jenis koloid
Indikator:
1.
Menentukan fase terdispersi dan fase pendispersi dari
beberapa contoh koloid dalam kehidupan sehari-hari
2.
Menganalisis jenis-jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan
fase pendispersi
3.
Menyimpulkan jenis-jenis koloid berdasarkan fase terdispersi
dan fase pendispersinya
v Pertemuan ke 1
a. Kegiatan pendahuluan
Guru menyampaikan salam
dan menanyakan kehadiran peserta didik, menyampaikan KI, KD, dan tujuan
pembelajaran
b. Kegiatan Inti
Penciptaan stimulasi
1. Guru menunjukan beberapa
contoh koloid yang ada pada kehidupan sehari-hari
2. Peserta didik
memperhatikan (mengamati) beberapa contoh koloid yang ada di dalam kehidupan
sehari-hari.
3. Guru menyebutkan komponen
penyusun yang ada pada koloid yaitu fase terdispersi dan medium pendispersi
4. Peserta didik bertanya
mengenai fase terdidpersi dan medium pendispersi dari beberapa contoh.
5. Peserta didik
mengidentifikasi (mengumpulkan informasi) mengenai perbedaan fase terdispersi
dan medium pendispersi dari contoh koloid yang dijelaskan guru.
·
Pembahasaan tugas dan identifikasi masalah
1.
Guru meminta peserta didik untuk mengidentifikasi fase
terdispersi dan medium pendispersi pada beberapa contoh koloid dalam kehidupan sehari-hari
2.
Peserta didik mengidentifikasi ciri-ciri dari fase
terdispersi dan medium pendispersi suatu koloid
·
Observasi
Peserta didik mencoba mengidentifikasi komponen penyusun beberapa contoh
koloid berdasarkan ciri-ciri dari fase terdispersi dan medium pendispersi.
·
Pengumpulan data
1.
Peserta didik menuliskan fase terdispersi dan medium
pendispersi dari beberapa contoh koloid.
2.
Peserta didik mencari informasi mengenai jenis-jenis fase
terdispersi dan medium pendispersi dari referensi yang ada untuk
mengidentifikasi jenis koloid
·
Verifikasi data
Peserta
didik melakukan pencermatan data yang diperoleh dari fese terdispersi dan
medium pendispersi beberapa contoh koloid dalam kehidupan sehari-hari yang
diberikan guru dan mencocokannya dengan jenis-jenis koloid berdasarkan fase
terdisppersi dan medium pendispersinya.
·
Generalisasi
1.
Peseta didik menyimpilkan jenis-jenis koloid berdasarkan fase
terdispersi dan medium pendispersinya.
2.
Peserta didik mepresentasikan (mengomunikasikan) hasil
pengamatan beberapa contoh koloid dalam kehidupan sehari-hari dan dan jenis
koloidnya berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersi koloid tersebut
c.
Penutup
1.
Guru melakukan tanya jawab dengan peserta untuk membuat
rangkuman dan atau hasil kesimpulan mengenai jenis-jenis koloid berdasarkan
fase terdispersi dan medium pendispersinya.
2.
Guru memberikan tugas terstruktur membuat tabel jenis-jenis
koloid secara berkelompok.
3.
Peserta didik membersihkan kelas dan membuang sampah pada
tempatnya.
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pembelajaran discovery learning (penemuan) merupakan
salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam pendekatan saintifik.
Pembelajaran discovery learning lebih menekankan
pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Pembelajaran discovery learning memliki beberapa kelebihan,
diantaranya berpusat pada siswa,
membangkitkan keingintahuan siswa, pengetahuan yang
diperoleh sangat pribadi dan ampuh menguatkan ingatan, pengertian dan transfer.
Pembelajaran discovery learning juga mempunyai beberapa kelemahan,
di antaranya menyita banyak waktu, tidak
berlaku untuk semua topik dan tidak semua siswa dapat melakukan
penemuan.
B.
Saran
Sebagai mahasiswa yang tidak terlepas dari segala sesuatu
yang berkaitan dengan pendidikan dan bidang keilmuan khususnya di
provinsi Lampung, seharusnya dapat lebih giat dalam mempelajari model
pembelajaran dengan
baik. Hal ini bertujuan supaya dapat memilih dan
memilah materi mana yang tepat dan cocok yang dapat diterapkan dalam proses
belajar agar tidak menyita waktunya juga tidak hanya melibatkan beberapa siswa
saja, karena model pembelajaran discovery diperlukan keaktifan seluruh siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik O. 1986. Media Pendidikan.
Bandung: PT Citra Aditya Bakti
Hosnan,M.2014.Pendekatan Scientific
dalam pembelajaran abad 21. Bogor : Ghalia Indonesia
Kemendikbud.2013. Model Pengembangan Penilaian Hasil Belajar.
Jakarta : Direktorat Pembinaan SMA
Permendikbud No 59 tahun 2014. Standar Proses Untuk
Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia.
Pratiwi, F. A., & Rasmawan, R. (2014). Pengaruh Penggunaan Model Discovery
Learning dengan Pendekatan
Saintifik terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA. Jurnal Pendidikan dan
Pembelajaran, 3(7).
Rofiq, A. (2014). Peran Strategi Pembelajaran Penemuan
(Discovery) dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Dalam Materi Ciri
Khusus Makhluk Hidup Pada Siswa Kelas VI.C MI Nurul Islam Pongangan Manyar Gresik Tahun
Pelajaran 2014/2015 (Doctoral dissertation). Surabaya : UIN Sunan Ampel








0 komentar:
Posting Komentar