ENZIM
( Laporan Praktikum Biokimia )
Oleh
Ewid Nur Anisa
1313023028
PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2015
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Percobaan :
Enzim
Tanggal Percobaan :
21Mei 2015
Tempat Percobaan :
Laboratorium Pembelajaran Kimia
Nama :
Ewid Nur Anisa
NPM : 1313023028
Fakultas :
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jurusan :
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Program Studi :
Pendidikan Kimia
Kelompok :
I ( satu )
Bandarlampung, 21 Mei 2015
Mengetahui,
Asisten
NPM :
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan
sehari-hari kita enzim adalah biomolekul yang berfungsi sebagi
katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa
habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia. Jika tidak ada enzim, atau aktivitas enzim
terganggu maka reaksi metabolisme sel akan terhambat hingga pertumbuhan sel
juga terganggu. Kelangsungan proses proses metabolisme yang diorganisasi
hanya mungkin terjadi bila setiap sel mempunyai sendiri perlengkapan enzim yang
ditetapkan secara genetik. Reaksi-reaksi enzimatik dibutuhkan agar bakteri dapat
memperoleh makanan/ nutrient dalam keadaan terlarut yang dapat diserap ke dalam
sel, memperoleh energi kimia yang digunakan untuk biosintesis, perkembangbiakan, pergerakan, dan
lain-lain. Baru setelah itu reaksi lanjutan yang terkoordinasi.
Juga pada sebagian besar mekanisme regulasi, enzim ikut berpartisipasi. Cara
ini dapat menjamin kelangsungan metabolisme pada perubahan kondisi. Hampir
semua enzim adalah protein. Tetapi terdapat
juga asam nukleat yang aktif secara katalitik, yaitu ribozim.
Berbagai reaksi kimia metabolis di dalam
tubuh organisme dapat berlangsung dengan cepat karena sel organisme tersebut
menghasilkan enzim. Misalnya saja kita yang dapat menyimpan larutan glukosa
dalam jangka waktu tak terbatas bila disimpan di dalam botol yang terjaga
kondisinya dan tidak tercemar oleh jamur atau bakteri. Larutan glukosa tersebut
akan terurai bila berada di dalam sitoplasma sel. Reaksi kimia di dalam sel
dilakukan oleh enzim yang termasuk ke dalam golongan katalis. Enzim tak hanya
ditemukan dalam sel-sel manusia dan hewan, namun sel-sel tumbuhan juga memiliki
enzim sebagai salah satu komponen metabolismenya. Enzim katalase merupakan
salah satu enzim yang terdapat pada tumbuhan. Enzim diproduksi oleh peroksisom
dan aktif dalam melakukan reaksi oksidatif bahan-bahan yang dianggap toksik
oleh tanaman, seperti hidrogen peroksida (H2O2). Enzim
katalase termasuk ke dalam golongan desmolase, yaitu enzim yang dapat
memecahkan ikatan C-C atau C-N pada substrat yang diikatnya.
Oleh karena itulah dilakukan percobaan dengan tujuan
untuk mengetahui sifat Proteolitik enzim pepsin dan tripsin serta mengetahui
aktivitas dehidrogenase dalam air susu.
1.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan
ini adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui sifat
proteolitik enzim pepsin
2.
Mengetahui sifat proteolitik enzim tripsin
3.
Mengetahui aktivitas dehidrogenase di dalam air susu
II TINJAUAN PUSTAKA
Enzim adalah suatu katalis biologis yang
dapat mempercepat terjadinya keseimbangan suatu reaksi kimia. Bisa pula
dikatakan enzim sebagai protein dengan sifat katalitik, dimana sifat
katalitiknya jauh lebih besar daripada katalis sintetis yang dibuat secara
kimia oleh manusia. Enzim juga memiliki spesifitas tinggi terhadap substrat,
atau dengan kata lain hanya mau mengkatalis reaksi tertentu dengan substrat tertentu
saja. Kelebihan enzim sebagai pengkatalis adalah dapat mempercepat reaksi kimia
spesifik tanpa pembentukan produk samping. Umumnya enzim punya berat molekul
jauh lebih besar daripada substrat yang dikatalisnya ( Winarno, 1995 ).
Enzim terkadang
enzim membutuhkan kofaktor yang bisa berupa senyawa organik atau
logam. Senyawa organik itu terikat pada bagian protein enzim, jika ikatan itu lemah maka
kofaktor tadi disebut koenzim dan jika terikat erat melalui ikatan kovalen
maka dinamakan gugus prostetis. Enzim dalam jumlah yang sangat kecil
dapat mengatur reaksi tertentu sehingga dalam keadaan normal tidak terjadi
penyimpangan-penyimpangan hasil akhir reaksinya. Enzim ini akan kehilangan
aktivitasnya akibat panas, asam atau basa kuat, pelarut organik, atau pengaruh
lain yang bisa menyebabkan denaturasi protein. Enzim dikatakan mempunyai sifat
sangat khas, karena hanya bekerja pada substratnya, pada umumnya dua kofaktor itu tidak dibedakan dan disebut koenzim
saja, apabila enzim itu terdiri dari bagian seperti yang diterangkan
diatas maka keseluruhan enzim itu dinamakan holoenzim. Bagian protein dinamakan
apoenzim dan bagian non proteinnya disebut koenzim. Fungsi logam pada umumnya
adalah untuk memantapkan ikatan substrat pada enzim atau mentransfer elektron yang
timbul selama proses katalisis (Sudarmadji,1989).
Dalam menjalankan
kerjanya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kerja enzim, diantaranya
temperatur, karena enzim tersusun dari protein, maka enzim sangat peka terhadap
temperatur. Temperatur yang tinggi dapat menghambat reaksi. Pada umumnya
temperatur optimum enzim adalah 30-40oC. Kebanyaka enzim tidak
menunjukkan reaksi jika suhu turun sampai sekitar 0oC, namun enzim
tidak rusak. Bila suhu normal kembali, maka enzim akn aktif kembali. Enzim
tahan pada suhu rendah, namun rusak di atas suhu 50oC. Kemuadian ada
perubahan pH, karena dapat mempengaruhi perubahan asam amino kunci apda saat
sisi aktif enzim sehingga menghalangi sisi aktif bergabung dengan substratnya.
pH enzim optimum berbeda-beda tergantung jenis enzimnya. Selanjutnya
konsentrasi enzim dan substrat, perbandingan jumalh antara enzim dan substrat
harus sesuai. Jika enzim terlalu sedikit dan substrat terlalu banyak reaksi
akan berjalan lambat dan bahkan ada substrat yang terkatalisasi. Semakin banyak
enzim maka reaksi akan semakin cepat. Terakhir inhibitor enzim, merupakan
penghambat kerja enzim. Jika inhibitor ditambahkan ke dalam campuran enzim dan
substrat, kecepatan reaksi akan turun. Cara kerja inhibitor ini adalah
berikatan dengan enzim membentuk kompleks enzim-inhibitor yang masih mampu atau
tidak mampu berikatan dengan substrat.
Untuk aktivitasnya
kadang-kadang enzim membutuhkan kofaktor yang bisa berupa senyawa organik atau
logam. Senyawa organik itu terikat pada bagian protein enzim. Bila ikatan itu
lemah maka kofaktor tadi disebut co-enzim dan dan jika terikat erat melalui
ikatan kovalen maka dinamakan gugus prostetis. Pada umumnya dua kofaktor itu
tidak dibedakan dan disebut co-enzim saja. Apabila enzim itu terdiri dari
bagian seperti yang diterangkan diatas maka keseluruhan enzim itu dinamakan
holo enzim. Bagian protein dinamakan apo-enzim dan bagian non proteinnya
disebut co-enzim.fungsi logam pada umumnya adalah untuk memantapkan ikatan
substrat pada enzim atau mentransfer electron yang timbul selama proses
katalisis (Poedjiadi, 1994).
Faktor-faktor yang mempengaruhi
kecepatan reaksi Enzim Perubahan suhu dan pH
mempunyai pengaruh besar terhadap kerja enzim. Kecepatan reaksi enzim juga
dipengaruhi oleh konsentrasi enzim dan konsentrasi substrat. Pengaruh aktivator,
inhibitor, koenzim dan konsentrasi elektrolit dalam beberapa keadaan juga
merupakan faktor-faktor yang penting.
Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu. Jika dilakukan
pengukuran aktivitas enzim pada beberapa macam pH yang berlainan, sebagian
besar enzim di dalam tubuh akan menunjukkan aktivitas maksimum antara pH 5,0
sampai 9,0. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada pH optimum. Ada
enzim yang mempunyai pH optimum yang sangat rendah, seperti pepsin, yang
mempunyai pH optimum 2. pada pH yang jauh di luar pH optimum, enzim akan
terdenaturasi. Selain itu pada keaadan ini baik enzim maupun substrat dapat
mengalami perubahan muatan listrik yang mengakibatkan enzim tidak dapat
berikatan dengan substrat (Soewoto,2000)
.
Pada daerah suhu yang lebih tinggi gerak termodinamik
akan lebih meningkat, sehingga tumbukan antara molekul akan lebih sering. Akan tetapi laju reaksi tidak terus meningkat,
melainkan malah menurun dengan cara yang lebih kurang sebanding dengan selisih
nilai dan suhu optimum. Dalam peningkatan suhu ini, selain gerak termodinamik
meningkat, molekul protein enzim juga mengalami denaturasi, sehingga bangun
tiga dimensinya berubah secara bertahap. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu
optimum, maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin
sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim.
Akibatnya, kompleks E-S akan sukar terbentuk, sehingga produk juga makin
sedikit (Lehninger, 1998).
Enzim proteolitik sangat penting dalam banyak prosedur
pemrosesan makanan industri. Reaksi yang dikatalisis oleh enzim proteolitik
adalah hidrolisis ikatan peptida protein. Enzim proteolitik dapat dibagi
menjadi empat golongan yaitu :
1.
Protease
asam
Protease asam merupakan kelompok
enzim dengan pH optimum rendah. Yang termasuk di dalamnya adalah pepsin, renin
(kimosin), dan sejumlah besar protease mikroba dan fungus. Renin, enzim murni
yang terdapat dalam renet, adalah ekstrak lambung anak sapi yang telah dipakai
selama beribu – ribu tahun sebagai pengkoagulasi dalam pembuatan keju.
Aktivitas optimum renin adalah pada pH 3,5, tetapi paling stabil pada pH 5 dan
penggumpalan susu keju dilakukan pada pH 5,5 – 6,5.
Koagulasi atau
penggumpalan susu oleh renin terjadi dalam dua tahap yaitu :
a.
Tahap
enzim, enzim bekerja terhadap k-kasein sehingga kasein ini tidak dapat lagi
menstabilkan misel kasein.
b.
Tahap
nonenzim, melibatkan penggumpalan misel kasein yang sudah dimodifikasi
oleh ion kalsium.
Pepsin dibentuk dalam
mukosa lapis lambung berbentuk pepsinogen. Keasaman isi lambung yang tinggi
membantu pada pengubahan menjadi pepsin secara autokatalitik. Protease asam
dipakai pada pembuatan keju termasuk sediaan yang diperoleh dari organisme
Endothia parasitica, Mucor miehei, dan Mucor pusillus.
2.
Protease
serina
Protease
serina mencakup kimotripsin, tripsin, elastase, trombin, dan subtilisin. Nama
golongan ini mengacu ke bagian seril yang terlibat pada tapak aktif.
Kimotripsin, tripsin, dan elastase adalah enzim pankreas yang melaksanakan
fungsinya dalam saluran usus. Enzim ini diproduksi sebagai zimogen inaktif dan
diubah menjadi bentuk aktif oleh proteolisis terbatas.
3.
Protease
sulfhidril
Protease
sulfhidril memperoleh kenyataan bahwa gugus sulfhidril dalam molekul sangat
penting untuk aktivitasnya. Kebanyakan berasal dari tumbuhan dan dipakai secara
luas dalam industri makanan. Protease sulfhidril yang berasal dari hewan hanya
dua katepsin, yang terdapat dalam jaringan sebagai enzim intrasel. Enzim yang
terpenting dalam golongan ini adalah papain, fisin, dan bromelain. Protease
sulfhidril dipakai secara niaga termasuk penstabilan dan pembuatan bir tahan
dingin.
4.
Protease
yang mengandung logam
enzim
ini memerlukan logam untuk aktivitasnya dan dihambat oleh senyawa yang
mengkelat logam. Enzim ini merupakan eksopeptidase dan termasuk
karboksipeptidase A (peptidil-L-asam amino hidrolase) dan B (peptidil-L-lisina
hidrolase), yang menghilangkan asam amino dari ujung rantai peptida yang
mengandung gugusα -karboksil bebas (de
Man, 1997).
III METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini
adalah tabung reaksi, penagas air,termometer, pengukur waktu, rak tabung
reaksi, pipet tetes, gelas ukur dan labu ukur.
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini
adalah larutan pepsin, HCL 0,4%, fibrin atau albumin kering, larutan tripsin, larutan
buffer fosfat pH 7,6 ( 8ml Na2HPO4 dan 13,2ml KH2
PO4) , air susu segar, metilen biru,
griseraldehid, aquades dan parafin cair.
3.2 Diagram Alir
Adapun langkah kerja uji yang akan dilakukan seperti
diagram alir berikut:
3.2.1
Sifat proteolitik enzim pepsin
4
buah tabung reaksi
|
-
Masing-masing dimasukkan sedikit serabut fibrin atau albumin
-
Ditambahkan 2 ml pepsin dan 2 ml HCl 0,4 % pada tabung 1
-
Ditambahkan 2 ml pepsin dan 3 ml akuades pada tabung 2
-
Ditambahkan 2 ml akuades dan 2 ml HCl 0,4 % pada tabung 3
-
Ditambahkan 2ml pepsin yang dididihkan dan 2 ml HCl 0,4 % pada tabung 4
-
Dikocok
-
Hasil
Pengamatan
|
3.2.2
Sifat proteolitik enzim tripsin
3
Buah Tabung Rekasi
|
-
Masing-masing dimasukkan sedikit serabut fibrin atau albumin
-
Ditambahkan 2 ml tripsin +2 ml buffer pH 7,6 pada tabung 1
-
Ditambahkan 2 ml tripsin + 2 ml akuades pada tabung 2
-
Ditambahkan 2 ml tripsin dipanaskan + 2 ml buffer pH 7,6 pada tabung 3
-
Dikocok
-
Hasil
Pengamatan
|
3.2. 3 Aktifitas enzim dehidrogenase
didalam air susu
3 Buah Tabung Rekasi
|
- ditambahkan 5 ml air susu
- dididihkan susu pada tabung 3
- didinginkan
- ditambahkan 3 tetes metal biru 0,02% (indicator) pada masing-masing tabung
- ditambahkan 1 ml larutan
0,4% formaldehid pada tabung 2 dan tabung 3
- dicampukan dengan
memutar
pelan-pelan pada setiap tabung
- ditambahkan 2 ml parafin cair pada setiap tabung
-
Hasil
Pengamatan
|
-
-
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dari
percobaan yang telah dilakukan sebagai berikut:
a.
Sifat proteolitik enzim pepsin
Tabung
|
Bahan yang terkandung
( campuran terdiri
atas )
|
Perubahan yang terjadi
|
|
Awal
|
Akhir
|
||
1
|
2 ml pepsin + 2
ml HCL 0,4%
|
Bening
|
Keruh
|
2
|
2 ml pepsin + 3
ml aquades
|
Bening
|
Keruh
|
3
|
2 ml aquades + 2
ml HCL 0,4%
|
Bening
|
Jernih
|
4
|
2 ml pepsin yang didihkan + 2 ml HCL 0,4%
|
Bening
|
Keruh
|
b.
Sifat proteolitik enzim tripsin
Tabung
|
Bahan yang terkandung
( campuran terdiri
atas )
|
Perubahan yang terjadi
|
1
|
2 ml tripsin + 2
ml buffer pH 7,6
|
Ungu
Muda
|
2
|
2 ml tripsin + 2
ml akuades
|
Ungu
Muda
|
3
|
2 ml tripsin yang
dididihkan + 2 ml buffer pH 7,6
|
Ungu
Tua
|
c.
Aktifitas enzim dehidrogenase dalam air susu
Tabung
|
Bahan yang terkandung
( campuran terdiri
atas )
|
Warna Asal
|
Hasil
|
1
|
5 ml susu + 1 ml
metilen biru
|
Biru
Muda
|
Biru
Muda Pekat
|
2
|
5 ml susu + 1 ml
metilen biru + 1 ml formaldehid
|
Biru
Muda
|
Biru
Muda Pudar
|
3
|
5 ml susu + 1 ml
metilen biru + 1 ml formaldehid
|
Biru
Muda
|
Biru
Muda Pudar
|
4.2 Pembahasan
Enzim atau biokatalisator
adalah katalisator organik yang dihasilkan oleh sel. Enzim adalah suatu katalis biologis yang dapat mempercepat terjadinya
keseimbangan suatu reaksi kimia. Bisa pula dikatakan enzim sebagai protein
dengan sifat katalitik, dimana sifat katalitiknya jauh lebih besar daripada
katalis sintetis yang dibuat secara kimia oleh manusia. Enzim juga memiliki
spesifitas tinggi terhadap substrat, atau dengan kata lain hanya mau
mengkatalis reaksi tertentu dengan substrat tertentu saja. Kelebihan enzim
sebagai pengkatalis adalah dapat mempercepat reaksi kimia spesifik tanpa
pembentukan produk samping. Umumnya enzim punya berat molekul jauh lebih besar
daripada substrat yang dikatalisnya
Adapun ciri – ciri
enzim adalah sebagai berikut:
1. Biokatalisator, yaitu enzim hanya dihasilkan oleh sel-sel mahkluk hidup
yang digunakan untuk mempercepat proses reaksi.
2. Protein, yaitu
sifat-sifat enzim sama dengan protein yaitu dapat rusak pada suhu yang tinggi
dan dipengaruhi pH.
3. Bekerja secara khusus, yaitu enzim tertentu hanya dapat mempengaruhi reaksi
tertentu, tidak dapat mempengaruhi raeksi lainnya. Zat yang terpengaruhi oleh
enzim tersebut substrat.Substrat adalah zat yang bereaksi. Oleh karena macam
zat yang bereaksi di dalam sel sangat banyak, maka macam enzim pun banyak.
4. Dapat digunakan berulang kali, yaitu dapat digunakan berulang kali
karena enzim tidak berubah pada saat terjadi reaksi. Satu molekul enzim dapat
bekerja berkali-kali selama enzim itu tidak rusak.
5. Rusak oleh panas, yaitu enzim rusak oleh panas karena merupakan suatu
protein . Rusaknya enzim oleh panas disebut denaturasi jika telah rusak enzim
tidak dapat bekerja lagi.
7. Tidak ikut bereaksi, yaitu enzim hanya diperlukan untuk mempercepat reaksi
namun tidak ikut bereaksi.
8. Bekerja dapat
balik, yaitu suatu enzim dapat bekerja menguraikan suatu senyawa menjadi
senyawa-senyawa lain dan sebaliknya dapat pula bekerja menyusun senyawa-senyawa
itu menjadi senyawa semula.
Adapun cara kerja enzim ada dua yaitu teori gembok-
anak kunci dan teori induced fit. Pada teori gembok-anak kunci, sisi aktif enzim
mempunyai bentuk tertentu yang hanya sesuai untuk satu jenis substrat saja. Bentuk
substrat sesuai dengan sisi aktif, seperti gembok cocok dengan anak kuncinya. Hal
itu menyebabkan enzim bekerja secara spesifik. Substrat yang mempunyai bentuk ruang yang sesuai
dengan sisi aktif enzim akan berikatan dan membentuk kompleks transisi
enzim-substrat. Senyawa transisi ini tidak stabil sehingga pembentukan produk
berlangsung dengan sendirinya. Jika enzim mengalami denaturasi (rusak) karena
panas, bentuk sisi aktif berubah sehingga substrat tidak sesuai lagi. Perubahan
pH juga mempunyai pengaruh yang sama.
Sedangkan
pada teori induced fit, reaksi antara substrat
denan enzim berlangsung karena adanya induksi molekul substrat terhadap molekul
enzim. Menurut teori ini, sisi aktif enzim bersifat fleksibel dalam
menyesuaikan struktur sesuai dengan struktur substrat. Ketika
substrat akan terinduksi dan kemudian mengubah bentuknya sedikit sehingga
mengakibatkan perubahan sisi aktif yang semula tidak cocok menjadi cocok (fit).
Kemidian terjadi pengikatan substrat oleh enzim, yang selanjutnya substrat
diubah menjadi produk. Produk kemudian dilepaskan dan enzim kembali pada
keadaan semula, siap untuk mengikat substrat baru.
Dalam praktikum kali ini melakukan tiga percobaan, yaitu percobaan sifat
proteolitik enzim pepsin, sifat proteolitik enzim tripsin dan aktivitas enzim dehidrogenase di
dalam air susu. Pada percobaan pertama mengenai sifat proteolitik enzim pepsin, adapun langkah
kerjanya yaitu tabung no 1, 2, 3 dan 4
yaitu dengan bahan campuran secara berturut-turut 2 ml pepsin dan 2 ml HCL 0,4
%, 2 ml pepsin dan 3 ml akuades, 2 ml aquades dan 2 ml
HCL 0,4% , serta 2 ml pepsin yang
didihkan dan 2 ml HCL 0,4 % kemudian dikocok secara merata dan terlihat warna
bening pada keempat tabung, kemudian setelah dipanaskan selama 30 menit pada
suhu 380 C terjadi perubahan warna. Pada tabung 1,2 dan 4 terjadi perubahan
warna dari bening menjadi keruh. Kekeruhan ini bertanda bahwa albumin tidak
diuraikan oleh protein. Sedangkan pada tabung no
3 terlihat sangat jernih dibandingkan dengan yang lainnnya, kerana albumin
telah diuraikan oleh protein. Dan pepsin menguraikan albumin dalam keadaan asam.
Hal ini juga dipengaruhi oleh kerja pada suhu yang optimal yaitu 380 C.
Enzim Pepsin adalah
enzim yang terdapat dalam perut yang akan mulai mencerna protein dengan memecah
protein menjadi bagian–bagian yang lebih kecil. Enzim ini termasuk protease, pepsin disekresi
dalam bentuk inaktif: pepsinogen, yang akan diaktifkan oeh asam lambung. Enzim
ini diproduksi oleh bagian mukosa dalam perut yang berfungsi untuk mendegradasi
protein. Enzim ini memiliki pH optimum 2-4 dan akan inaktif pada pH diatas 6.
Pepsin adalah salah satu dari 3 enzim yang berfungsi untuk mendegradasi protein
yang lain adalah kemotripsin dan tripsin.
Pada percobaan kedua mengenai sifat proteolitik enzim tripsin, adapun langkah kerja percobaan
ini yaitu mula-mula memasukkan sedikit serabut fibrin atau albumin ke dalam tabung 1, 2
dan 3 mengocok tabung lalu. enzim ini didihkan pada suhu 380C selama
30 menit. Adapun hasil
pengamatan yang diperoleh pada pengamatan ini yaitu pada tabung no.3, menghasilkan warna yang berbeda
yaitu ungu tua, sehingga dapat disimpulkan bahwa suhu yang optimal bagi enzim
tripsin sangat mempengaruhi dalam kerja enzim tersebut. Sedangkan pada tabung no.1 dan 2 ini berbeda
hasilnya yaitu ungu muda. Hal ini karena suhunya belum optimal, sehingga hasil
dari kerja enzim tersebut belum maksimal.
Pada percobaan aktivitas enzim dehidrogenase
di dalam air susu, adapun langkah kerjanya yaitu menambahkan 5 ml air susu ke dalam masing-masing
3 tabung reaksi. Lalu mendidihkan susu pada tabung 3 dan didinginkan. Kemudian menambahkan 3 tetes metal biru 0,02% (indikator) pada masing-masing tabung dan mencampukan dengan
memutar
pelan-pelan pada setiap tabung. Lalu menambahkan 2 ml parafin cair pada setiap tabung dan memanaskan sampai suhu 380 C selama 10 menit. Adapun
hasil pengamatan yang didapatkan adalah dalam percobaan ini enzim bekerja
mengoksidasi substrat dengan melepaskan hydrogen dari substrat. Yaitu Hidrogen bereaksi
dengan dengan methylin blue. Dan telah terbukti bahwa dalam susu terdapat
banyak enzim dehidrogenase. Karena terlihat pada tabung no.1 menghasilkan
perubahan warna biru muda yang sangat pekat dibandingkan dengan yang lainnya.
V KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari
hasil percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.
Enzim pepsin memiliki pH optimum 2-4 dan akan inaktif pada pH diatas 6.
2.
Enzim pepsin memiliki pH optimum 7,6-8,5
3.
Enzim pepsin bekerja pada suhu optimal 380C yang ditandai dengan warna jernih.
4.
Enzim tripsin bekerja pada suhu optimal 380C yang ditandai dengan perubahan warna ungu
tua.
5.
Enzim dehidrogenase bekerja mengoksidasi substrat dengan melepaskan
hydrogen dari substrat yang ditandai dengan perubahan warna biru muda pekat.
DAFTAR PUSTAKA
de Man, J. M.1997. Kimia Makanan edisi kedua. Bandung : . ITB
Lehninger AL. 1982. Dasar – Dasar Biokimia Jilid I.
Maggy Thenawijaya, penerjemah. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Principles
of Biochemistry.
Poedjiadi, Anna dan
Supriyatin. 1994. Dasar-Dasar Biokimia.
Jakarta: Universitas Indonesia Press
Sudarmadji,
S; B. Haryono; & Suhardi.1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Penerbit
Liberty
Winarno,
F. G.1995. Enzim Pangan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama









0 komentar:
Posting Komentar